Opini

Senin, 11 Januari 2021 - 19:17 WIB

3 bulan yang lalu

logo

Perubahan Sosiologi Komunikasi pada Globalisasi

Foto: Dok. Google

Foto: Dok. Google

KOLEGA.ID – OPINI | Negara Indonesia adalah negara dengan beragam budaya dan bahasa yang tersebar di seluruh daerah. Terdapat 652 bahasa daerah yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara (Kemendikbud.go.id, 2018). Bahasa daerah yang sangat banyak ini membuat komunikasi di antar daerah menjadi berbeda-beda. Demi menjalin komunikasi masyarakat Indonesia yang berasal dari berbagai daerah berbeda, masyakarat Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Kemampuan berbahasa ini membuat masyarakat mampu menjalin komunikasi dan proses social yang ada di dalam masyarakat.
Adanya proses social di antara masyarakat merupakan hal yang sering dan biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Proses social adalah pengaruh timbal balik dalam berbagai segi kehidupan bersama dalam masyarakat.

Sosial dalam hal ini berarti adanya berbagai kejadian atau peristiwa di dalam masyarakat dan adanya perbaikan dalam kehidupan bersama (Burhan Bungin, 2009). Sosiologi komunikasi merupakan suatu proses dimana adanya kontak dan interaksi social pada sesama manusia dengan cara berhubungan dan bentuk hubungan yang bermacam-macam dan menentukan kejadian ke depannya apabila terdapat perubahan pola kehidupan yang sudah ada.

Perubahan pola kehidupan yang telah ada sebelumnya terlihat pada era globalisasi saat ini. Dimana proses komunikasi social dilakukan dengan sangat mudah tanpa adanya batasan waktu maupun jarak. Apabila dahulu komunikasi social dilakukan dengan cara bertemu langsung, namun saat ini sudah sangat berbeda. Globalisasi membuat komunikasi social menjadi lebih mudah dengan menggunakan komunikasi digital dengan bantuan gadget/ smartphone dan dibantu dengan jaringan internet yang memadai.

Smartphone semakin popular di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Lebih dari setengah populasi di Indonesia atau 63.3% telah menggunakan ponsel pintar pada tahun 2019.

Diprediksi pada tahun 2025 setidaknya terdapat 89,2% populasi di Indonesia telah memanfaatkan smartphone (databoks.katadata,co.id, 2020).

Perkembangan smartphone ini membuat berbagai macam bentuk informasi dan komunikasi dapat diakses dengan mudah dan cepat.
Perubahan pola komunikasi ini membuat budaya dan pola kehidupan masyarakat Indonesia juga berubah terutama pada kaum milenial. Generasi milenial adalah generasi yang lahir pada awal tahun 1980an hingga pertengahan tahun 1990an dan akhir dari generasi milenial adalah kelahiran pada awal tahun 2000an.

Budaya asing sangat mudah masuk dan dipelajari oleh berbagai kalangan terutama anak muda sehingga tak jarang budaya yang digunakan mengarah pada budaya ke-barat-baratan.

Semakin lama generasi milenial semakin kehilangan budaya asli mereka karena proses globalisasi yang mengarah pada percampuran budaya terus menerus berkembang dan terjadi di tengah-tengah kehidupan masyakarat. Hal ini merupakan salah satu bukti masuknya budaya asing yang diimplementasikan oleh kaum milenial melalui teknologi komunikasi digital.

Perubahan pola komunikasi yang mengakibatkan terjadinya akulturasi budaya menjadi peluang serta tantangan bagi bangsa Indonesia. Terdapat berbagai dampak positif dan negative dengan adanya proses social komunikasi di tengah-tengah masyarakat. Berbagai dampak tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: Dampak positif proses komunikasi social dalam hal ini adalah penerapan teknologi komunikasi. Pada segi komunikasi adalah tidak memerlukan banyak waktu, tempat dan biaya untuk melakukan pertemuan dan komunikasi dengan berbagai pihak, baik yang ada di luar negeri maupun yang ada di dalam negeri.

Perkembangan media social yang semakin tinggi juga mengakibatkan adanya kemudahan dalam berkomunikasi antar negara.
Selain melalui pesan langsung berupa tulisan dan suara, saat ini komunikasi digital dapat dilakukan dengan panggilan video yang membuat pola komunikasi seperti tidak ada jarak karena dapat saling bertatap tanpa batas lokasi dan waktu.

Hal ini tentunya membuat pertukaran budaya lain menjadi semakin cepat seperti penggunaan bahasa asing dan gaya hidup.
Selain itu, dampak positif yang kedua, kecanggihan teknologi komunikasi digital juga dapat memberikan informasi yang semakin kompleks terhadap suatu isu dan peristiwa. Seperti halnya informasi mengenai virus Covid-19 yang menyebar pertama kali di Hubei, Tiongkok.

Dengan adanya kecanggihan teknologi komunikasi, maka informasi mengenai virus berbahaya tersebut dapat tersebar di seluruh penjuru dunia dan pemerintah dapat dengan sigap melakukan upaya-upaya pencegahan di Negara masing-masing.
Dampak negative dari proses social komunikasi saat ini adalah persebaran informasi yang sangat cepat dan luas mengakibatkan timbulnya berbagai macam informasi palsu atau hoax. Hal ini tentunya sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup bermasyarakat karena dapat menimbulkan perpecahan. Selain itu, informasi palsu dapat membuat budaya asli Indonesia menjadi terkikis.

Seperti halnya budaya gotong royong, dimana awalnya budaya gotong royong sangatlah tinggi menjadi sangat rendah apabila masyarakat tidak menanggapi informasi dengan bijak dan memercayai berbagai informasi palsu yang dapat memecah belah.
Selain itu, dampak negative yang terjadi akibat proses komunikasi social yang meluas adalah sikap dan perilaku di masyarakat, baik dalam berkomunikasi maupun dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan semakin jarang ditemui, karena adanya percampuran budaya asing yang masuk ke Indonesia. Sehingga komunikasi akan terbiasa terjalin dengan bahasa-bahasa kekinian yang menjadi trend terutama pada generasi milenial atau generasi Y.
Berbagai dampak yang telah dijabarkan memberikan arti bahwa kaum milenial dapat menjadikan proses komunikasi social dengan kecanggihan teknologi saat ini sebagai peluang untuk berkembang dan terus melakukan perubahan ke arah yang positif dan membawa bangsa Indonesia menuju bangsa yang maju ke depannya. Namun, dibalik itu semua harus tetap menjunjung tinggi jati diri sebagai NKRI dan tidak melupakan budaya-budaya Indonesia yang luhur.

Editor: ARI

Avatar

Writer

Artikel ini telah dilihat sebanyak: 19 views

Baca Lainnya